Recents in Beach

Seiken Gakuin no Maken Tsukai - Chapter 5 Bahasa Indonesia

seiken gakuin no maken tsukai novel indo
Chapter 5 — Tes Pemeriksaan Pedang Suci

Setelah berbagai hal yang terjadi, ia pun akhirnya membuat kontrak dengan familiarnya, Lisellia. Mereka memutuskan untuk makan siang sebelum pergi ke Biro Manajemen, untuk menjalani tes pemeriksaan Akademi Pedang Suci.

Apalagi, tubuh Leonis bukanlah tubuh abadi seperti dulu kala. Tanpa asupan makanan, dia bahkan tidak bisa menggunakan sihirnya dengan memuaskan.

“Apa yang akan kamu lakukan kalau aku memberi tahu identitasmu yang sebenarnya pada Biro Manajemen?”

“──Kamu tidak khawatir soal itu?”

Jika identitas asli Leonis terbongkar, tak pelak orang-orang juga akan tahu identitasnya sebagai vampir. Dia yang bertekad menjadi Pendekar Pedang Suci seyogianya tidak punya pilihan itu.

“.....Ak-aku tahu itu.” Ucap gadis itu, mendengus.

“Yang pasti, seorang familiar tidak bisa mengkhianati sang Master.”

Leonis lalu memperlihatkan ukiran segel di tangannya.

“Er, itu apa?”

“Ini 〈Carved Seal〉untuk perintah dan perbudakan. Aku bisa membuat familar patuh menggunakan ini...”

“Eh, tidak mungkin ... Ba-bahkan, untuk melakukan hal-hal mesum juga!?”

Mendengarnya, matanya sedikit berair.

“Yah, aku sih bisa. Tapi tidak akan aku lakukan.”

“.....Be, benarkah?”

“Ya, benar.” Jawab Leonis, heran.

....Raja Iblis yang membuat familiarnya melakukan itu tentunya ada. Namun, Raja Iblis Leonis berbeda, ia tidak akan pernah memperlakukan familiar atau bawahannya dengan suatu hal semacam itu.

“Oke, aku percaya padamu. Di kamar mandi pun, kamu sangat sopan ya.”

Angguk gadis itu ketika ia berkata.

“Jadi, familiar itu, tugasnya apa?”

“Familiar ada untuk melindungi tuannya. Lagian, tubuhku ini seperti yang kamu lihat, sangat lemah.”

Mendengar perkataannya,

“Baiklah. Biar Onee-san ini yang akan melindungimu, fufufu” Jawabnya, dengan tawa kecil, dan kemudian kemudian membelai kepalanya, tampak senang.

Setelah pertukaran itu, mereka berdua memasuki restoran makanan ringan yang berada di area akademi.

.....Seperti yang aku pikirkan, tubuh manusia benar-benar menyusahkan. Benaknya ketika ia mengambil tempat duduk.
Kesan Leonis berbalik ketika ia mandi.

Di sisi lain, menuju Lisellia yang mengetahui dirinya sebagai undead, ia sendiri tampak sedikit cemas.

“Nee, aku memang tidak bisa lapar, tapi bisakah aku makan dengan benar?”

“Untuk jenis vampir tingkat tinggi, kamu masih bisa makan makanan secara normal. Tapi agak kurang efisien karena butuh waktu untuk mengubah makanan menjadi Mana.” Jelasnya dalam suara rendah.

“Dan tidak seperti vampir kebanyakan, kamu bisa berjalan di siang hari.”

Ratu vampir (Vampir Queen) merupakan undead tingkat tinggi, yang sebanding dengan Elder Lich dan Black Knight.

“.....Kalau begitu, baguslah.”

Lisellia merasa lega.

Yah, dari sudut pandang penyamaran, tiada yang lebih baik daripada memakan makanan normal.

“Un, kalau kamu benar-benar ingin darah, kamu bisa menyedot milikku.”

Bahkan, walaupun itu untuk menyelamatkan nyawanya, ia pada akhirnya telah membuat gadis yang mendambakan ksatria suci itu menjadi undead. Paling tidak, dia pikir dia harus memberikan darahnya setiap waktu.

Diam-diam, Lisellia meneguk tenggorokannya.

“.....”

Menatap leher Leonis dengan mata biru esnya.

“Um....sedikit saja tidak apa kok.”

“K-kamu salah!”

Pipinya memerah kemudian memalingkan mukanya.

“Karena aku tidak akan melupakan sisi kemanusiaanku, aku tidak akan melakukan sesuatu seperti meminum darah!”

“.......S-suaramu terlalu keras.....!”

Leonis sontak melirik meja sekitarnya.
Jarang terlihat ada siswa sekitar jam 3, namun masih ada beberapa dari mereka yang berbisik dan melihat ke arahnya.

.....Apa jangan-jangan mereka mendengar percakapan kami?

Guna memastikan, ia memilih salah satu dari mereka, dan mengaktifkan sihir 〈Esc Sensor〉.

『Hei, bukankah anak itu terlihat imut?』

『Ya, tapi dia kan masih kecil. Yang seperti itu tidak masalah buatmu?』

『Enggak masalah, bisa tidak aku memilikinya sekarang yaa?』

『Uwa, aku mencium bau-bau kejahatan di sini. Bocah imut seperti itu, pasti di masa depan akan jadi raja iblis malam lho.』

『Omong apa kamu? Sembarangan .... Ah, lihat sini♪』

Salah satu gadis yang berbicara sedang tersenyum dan melambaikan tangannya.

Meskipun tidak masalah untuk mengabaikannya, Leonis rada kaget saat ia mendengar kata “Raja Iblis”.

“Lain kali tolong berhati-hatilah....”

Dengan malu-malu Lisellia menyembunyikan wajahnya di menu.

“Uuu— jadi, sudahkah kamu memutuskan menunya?”

“....Roti tidak apa-apa.”

“Roti ya ... Apa roti yang baru dipanggang ini?”

“Em, yah.”

“Padahal masih banyak lagi menunya. Makanan di restoran ini rasanya enak-enak lho.” Katanya sambil menerangkan menu hidangan.

“Roti saja tidak apa. Lagi pula aku tidak tahu menu-menu yang lain—”

Leonis menggelengkan kepalanya.

.....Makanan apa itu? Gratin, lasagna, dan pasta.....?

Semuanya merupakan hidangan yang tak pernah didengarnya. 1000 tahun yang lalu, tidak ada hidangan semacam ini.

Tidak, bisa jadi itu jenis makanan yang biasa ada di meja bangsawan kerajaan, wajar saja kalau Leonis kurang tahu, bagaimanapun itu merupakan lingkungan sosial yang tidak ada kaitannya dengannya.

Lantas Lisellia menyodok jari telunjuknya ke jidatnya.

“Jangan hanya makan roti saja, itu tidak bagus untuk kebutuhan nutrisimu.”

“Aku tidak mau mendengarnya dari undead .... ah.”

Oh sial, sudah terlambat untuk berpikir.

“.....~!”

Mata Lisellia sedikit berair.

“A-aku minta maaf! Itu tadi salahku!”

Leonis buru-buru meminta maaf. Aneh bahwa Raja Iblis tunduk pada familiarnya, tapi bagaimanapun gadis itu sama sekali tak pernah berkeinginan untuk menjadi undead.

“.....kamu jahat.” Gumam Lisellia.

“......Ya aku tahu, maaf.”

Sekali lagi ia meminta maaf ketika gadis itu mendengus.

“Baik aku memaafkanmu. Lalu, bagaimana dengan pasta sayuran berwarna musim ini?”

“Err, baik, aku makan ini.”

Leonis mengangguk ketika gadis itu menunjuk menu pasta dan salad.

“Hari ini Onee-san akan mentraktirmu. Tapi kalau kartu ID non-temporer sudah dibuat, gunakan kreditmu.”

“Kredit?”

“Itu uang yang bisa digunakan di kota-kota. Hadiah hasil dari penuntasan misi akademi akan ditransfer ke sini.”

“Ah, uang ya? Kalau itu sih, masalah enteng—”

Tertawa bangga, Leonis mengeluarkan sekeping koin emas dari bayangannya.

Apa yang ia keluarkan adalah koin Ladaido yang dicetak oleh Kekaisaran Sucharest. Bahkan dengan sekeping ini saja, itu jumlah uang yang rakyat jelata dapat habiskan seumur hidup. Ada total 2000 koin Ladaido di 〈Shadow Space〉-nya. Ini dana militer yang diambil dari gudang harta Kota Kematian Necrozoa untuk membangun kembali Pasukan Raja Iblis di masa mendatang.

Akan tetapi,

“...... apa itu?”

Reaksi Lisellia di luar dugaan.

“....He?——

Ini koin emas Ladaido. Satu keping ini cukup bernilai untuk membeli restoran ini.”

“Um ... menurutku sih itu tidak bisa dipakai——
Semua transaksi di Kota Taktis Ke-7 adalah secara kredit.” Kata Lisellia, yang memasang wajah ragu-ragu.

“.....Apa...?”

Leonis terperangah.

“Kalau itu emas murni pasti akan sangat berharga bahkan kalau itu tidak bisa dipakai sebagai uang.
Ah, aku bisa bilang ini emas murni. Tapi emas murni bukanlah logam mulia yang paling bernilai.”

“Apa lagi ini....”

“Meski kurang memuaskan, ini bisa digunakan untuk dekorasi, tapi yah, perak yang dipahat dengan sihir lah yang jauh lebih bernilai.”

  “……”

Harta karun yang menempati sebagian besar 〈Shadow Treasure Space〉 dalam sekejap menjadi sia-sia.

“Tenang saja, karena aku yang akan mentraktirmu.” Ucap Lisellia, tersenyum ramah.

Leonis menggerutu.

Tiba-tiba—

“Hee, untuk memiliki koin lama, itu benar-benar sesuatu yang bergaya.”

Terdengar suara dingin (keren) seperti suara angin. Menengok ke arah suara itu, seorang gadis berambut biru yang mengingatkannya pada langit biru, memandangi koin emasnya, tampak penasaran.

Rambutnya dipangkas pendek dan kendatipun pada pandangan pertama terlihat seperti anak laki-laki yang tampan, dada di balik baju putihnya agak menonjol. Badannya hanya sedikit lebih tinggi dari Leonis.

Berbeda dari seragam Lisellia, dia membalut tubuhnya dengan pakaian unik, dan dengan santainya menggantung seragam luarnya di atas bahunya.

Seorang gadis cantik nan keren.

“Oh, Sakuya....”

Mendongak, Lisellia melambaikan tangannya.

......Apa gadis ini juga kenalannya?

“Bukankah hari ini ada sesi pelajaran taktis?”

“Iya, aku sangat bosan, jadi aku langsung keluar begitu saja.” Jawab gadis berambut pendek itu sebelum menatap Leonis.

“Mungkinkah, kamu anak laki-laki pengguna pedang suci....?”

“Kamu tahu Leo-kun?”

“Ya, aku sudah bertanya pada Elfiona-senpai. Jadi kamu yang terkurung di reruntuhan itu?”

“Benar, di tempat di mana aku diculik Void, Sellia-san menolongku.”

“Benarkah begitu? Apa pun itu, bagus kalau kamu tidak apa-apa.”

Gadis itu segera mengulurkan tangan kanannya.

“Aku Sakuya Sieglinde, salam kenal.”

“Namaku Leonis Magnus.”

Leonis membalas tangannya dengan sopan.

Begitu ia meraih tangannya, ia merasakan tangan gadis ini, kecil dan agak dingin.

Dia juga tahu bahwa itu adalah tangan orang yang diabdikan hanya untuk pedang. Usia gadis ini mungkin sekitar 14 atau 15 tahunan.

Pada seusia ini, berapa banyak latihan yang ia tumpuk?

“Fumu, Leo ya? Nama bagus yang mengingatkanku pada singa.”

Melepaskan tangannya, gadis itu tersenyum.

“Sakuya merupakan penyerang depan dari peleton kami.”

Lisellia memperkenalkannya pada Leonis.

...Begitu, jadi mereka anggota dari peleton yang sama. Tapi aku penasaran tentang bagaimana mereka mencari pendekar pedang sebanyak ini.

“Ngomong-ngomong, apa senpai lagi makan siang?”

“Ya. Sehabis makan siang, aku berencana untuk mendaftarkan Leo-kun ke Pedang Suci.”

“Begitu ya? Maaf karena aku mengganggu senpai.”

“Tidak juga. Apa Sakuya juga mau makan siang?”

“Nn, ya....”

Sejenak, Sakuya menghindar dari tatapannya, dan bergumam dengan canggung.

“Um, aku tidak punya kredit hari ini.”

“Eeeh, memangnya kamu habiskan buat apa?!”

Lisellia teriak kaget.

“Judi.”

“.....Itu salahmu sendiri.”

“Kupikir juga begitu.”

Leonis setuju pada Lisellia, yang berkomentar dingin.

“......Kalian salah paham!”

Sakuya menggelengkan kepalanya untuk meluruskan kesalahpahaman.

“Er, itu, aku sangat tergoda...”

“.....”

Tatapan Lisellia semakin curam.
Penampilannya keren tapi kepribadian orangnya sangat buruk.

“Kreditku habis dan mereka akan membebaskanku kalau aku memperlihatkan payudaraku, jadi ketika aku tidak punya pilihan lain selain melepas baju, instruktur patroli menerobos masuk.”

“Sa, Sakuya! Jangan sampai kamu lakukan itu lagi, ingat, kamu ini perempuan lho!”

Tubuh Lisellia bergetar sambil mencengkeram bahunya.

“Tidak perlu secemas itu, orangnya juga seorang perempuan.”

“......Lalu bagaimana dengan itu?”

Lisellia bingung.

Tentu saja mereka berjenis kelamin sama, tapi...

“Itu sebabnya aku tidak punya uang.”

Entah bagaimana ada sedikit kebanggaan dari ucapannya.

“Mou, tidak ada pilihan lain. Aku akan mentraktirmu makan siang.” Kata Lisellia, mendesah ringan.

“Tidak, senpai, itu agak...”

“Tidak apa-apa kok. Aku juga baru dapat tambahan kredit karena menyelidiki reruntuhan.”

Lisellia mengeluarkan dan membalikkan kartunya.

“Aku berhutang budi padamu, Senpai. Jujur, aku sangat lapar.”

Sakuya membungkuk dalam-dalam dan duduk di kursi dengan baik.

“Apa yang dipesan anak itu?”

“Dia tidak tahu soal makanan.”

Challenger ya. Baik, aku pesan pancake.”


“Sakuya, jangan hanya makan makanan manis.”

“Tidak apa-apa, karena aku tidak gemuk.”

“Bukan itu yang aku maksudkan....”

Lisellia memijat keningnya.

Sambil menunggu makanan datang, Leonis bertanya tentang apa yang selama ini ia pikirkan.

“Um ... Sakuya-san, apa pakaianmu itu?”

“Oh, ini pakaian tradisional dari negaraku––Ouran.” Jawabnya dengan anggukan.

“Ini kenang-kenangan dari kakakku.” Lanjutnya.

Pada saat itu, api kebencian menyala redup di matanya.

“Klan desaku dibantai oleh Void. Misiku ialah untuk membunuh mereka.”

Suaranya dingin. Begitu mengerikan pada tingkat di mana para siswa di meja sekitar tanpa sadar memalingkan muka.

Di masa lalu, Leonis kerap melihat orang dengan mata seperti itu.

....Tekad balas dendam, kah?

“Sakuya......”

Lisellia memanggilnya dengan pelan.

“Maaf, tadi bukan niatku untuk berbicara seperti itu pada pertemuan pertama kita.”

Sakuya mengangkat bahunya untuk merilekskan ketegangan.

“Begitu, aku telah mendengar sesuatu yang tidak bermoral.”

“Meskipun ini melanggar peraturan akademi, aku tidak mau melepas pakaian kenang-kenangan dari saudara perempuanku. Aku punya izin khusus.”

“Sakuya merupakan salah satu dari beberapa siswa dasar di akademi yang memiliki prestasi mengalahkan Void sendirian.”

“Itu belum seberapa——Ups, dia sudah datang.”

Leonis meminta pasta sayur berwarna musiman pada saat pelayan datang untuk menerima pesanan.

Pasta sayuran berwarna musiman, entah bagaimana sangat cocok di lidah Leonis. Tampaknya masakan manusia selama 1000 tahun ini telah mengalami kemajuan pesat, variasi bumbu telah meningkat secara dramatis.

Sakuya Sieglinde mengatakan dia akan mengambil barang pribadinya yang berkualitas, yang ada di asramanya.

.....Berjudi pada usia ini, sepertinya dia tidak khawatir sama sekali.

Seusai makan makan siang, ia pun dibawa ke tempat fasilitas pelatihan yang ada di dalam area akademi.

Fasilitas pelatihan serbaguna, dibandingkan dengan zaman Leonis, tentunya ini terlalu luas untuk membangun dua atau tiga kastil.

Bahkan di lapangan ini saja, 10 ribu pasukan skeleton kemungkinan akan cukup untuk dibuat berbaris.....

Di lapangan, seorang wanita berseragam militer sedang menunggu dengan tangan di pinggulnya.

“Tepat waktu. Aku pengawas tes, Alto D’glacé.”

“Aku Leonis Magnus.”

“....Anak laki-laki yang terkurung dalam reruntuhan itu kamu, kan?”

Dia memandangnya seperti meremehkan Leonis.

“Kau tak perlu siap. Ingat, ujian ini hanya untuk mengkonfirmasi tipe pedang sucimu.”

“Tipe.”

“Dengan mendaftarkan kemampuan pedang sucimu, kamu bisa gunakan itu sebagai referensi untuk menentukan kurikulum latihanmu.” Jelas Lisellia.

Karena kemampuan Pedang Suci itu berbeda-beda, tidak mungkin untuk menetapkan nilai nyata dalam ujian standar. Itu sebabnya, instruktur Pendekar Pedang Suci membuat penilaian beragam dengan matanya.

“Itulah kenapa. Jadi secepatnya, bisa kau tunjukkan padaku pedang sucimu?”

“.....Aku mengerti. Datanglah, 〈Magic Staf of Sealing Sin〉–ku!”

(TLN: Sebelumnya 〈Staff Iblis Penyegel Dosa〉, agak sulit nentuin namanya karena pakai kanji bukan katakana. Perbaikan akan saya lakukan di pdf.)

Ketika Leonis berseru, tongkat sihir yang terwujud dari bayangannya digenggam di tangannya.

“Tongkat──apa itu wujud Pedang Sucimu? Apa tipe kemampuannya?”

“Er, tipe support ... kurasa? Bervariasi tergantung situasi.”

Leonis jelas berbohong.

“Aku mengerti, pedang sucimu Tipe Support Universal, lalu—”

D'glacé memasukkan sesuatu pada terminal tablet yang ada di tangannya.

“Baiklah kalau begitu, coba tunjukkan kekuatanmu—”

Ketika dia mengoperasikan terminal, massa logam yang dipasang di tepi lapangan latihan berdiri tegak. Itu adalah objek aneh yang berbentuk seperti laba-laba berkaki delapan. Tertanam di bagian penghubung kaki ialah kristal sihir yang menyala merah, sebesar kepalan tangan.

“Apa itu?”

“Itu Void Simulator pelatihan, diprogram untuk meniru pola serangan Void asli, yang dikembangkan oleh Departemen Teknologi Sihir lho.” Kata Lisellia.

“Untuk tes kali ini, levelnya sudah diatur rendah. Jadi tidak terlalu sulit untuk ditangani.”

“.....Aku mengerti.”

......Mainan macam apa ini?

Leonis dibuat setengah heran saat melihatnya, namun tetap menodongkan staf di tangannya ke depan.

Baiklah, bagaimana kalau aku gunakan〈 Belton 〉 tingkat ke-2?

.....Mari kita selesaikan prosedur yang merepotkan ini dengan cepat.

Mencondongkan staf sihirnya ke depan, dia melepaskan mantra tipe gravitasi.

Zudooooooooooon!!

Membuat suara keras, simulator Void meledak menjadi potongan-potongan kecil.

“……!?”

Lisellia dan D'glacé tertegun membisu.

.......oh sial, apa aku berlebihan?

“Si, Simulator Void Metahalcon, hancur berkeping-keping.......?”

“B-Bukankah tipemu Support Universal!? Kekuatan apa tadi...?”

“Err, apa serangan tadi terlihat buruk?”

“Jelas tidaklah! Fumu, pedang sucimu itu, aku perlu memeriksanya lebih lanjut.”

Tatapan tajam D'glacé diarahkan padanya.

“Guh....”

.....ini mulai gawat. Sepertinya dia mulai mencurigaiku.

“Baiklah, test apa yang harus dilakukan selanjutnya ya?” katanya, mulai berpikir.

Dan tiba-tiba.

“Tolong tunggu...”

Suara tak asing memotong masuk.

Berjalan diiringi oleh gadis-gadis pengikutnya sembari menyisir rambut pirangnya, ialah anak laki-laki berwajah rupawan.

Dia Muselle Rhodes.

“Ada apa, Viscount Muselle. Sekarang kami sedang dalam tes pemeriksaan, kau tahu?”

Instruktur D'glacé menatap tajam ke si pengacau yang kurang ajar.

Namun, Muselle malah menyeringai dan menghampiri Leonis.

“Instruktur, bisakah aku mengambil alih pemeriksaan ini?”

“Apa kau bilang?”

D'glacé mengerutkan keningnya.

“Viscount Muselle, pertandingan tidak resmi dilarang.”

“Ini pemeriksaan, bukan pertandingan. Tidak ada masalah jika instruktur memberikan izin, lagi pula aku memiliki kualifikasi sebagai pendekar pedang suci semi-kelas satu.”

Senyuman sadistik terpampang jelas di permukaan, mungkin ia masih menyimpan dendam karena telah dipermalukan sebelumnya.

D'glacé kembali menatap Leonis.

“Anak muda, bagaimana tangapanmu?” Ucapnya dalam suara rendah.

“.....Tidak ada.”

Dia mengangkat bahunya karena merasa Leonis sengaja bermain bodoh.

“Fumu—”

Melirik sisa-sisa simulator void yang hancur, seolah-olah menemukan sesuatu, ia dengan lembut melengkungkan tepi bibirnya—menyeringai lebar.

“Yah, berhubung simulatornya juga sudah rusak, mungkin itu bisa dilakukan.”

....Wanita ini, sepertinya ingin berencana mengukur kekuatanku.

Rupanya, Leonis secara tidak sengaja menarik minatnya.

Yah, apa boleh buat—

Pada Leonis yang merasa kewalahan,

“Aku sih tidak masalah. Senpai boleh kok jadi pengganti benda sampah di sana.”

“.......huh, apa katamu, dasar bocah....!”

Ekspresi Muselle, yang menyisipkan ketenangan dari awal, dengan mudah terdistorsi oleh kemarahan.

Terpancing hanya dengan tingkat provokasi recehan ini, dia benar-benar orang bersumbu pendek.

......Yah, terlalu melelahkan kalau hanya terus memancingnya.

Lebih baik aku hancurkan orang macam ini di depan publik.

“Tunggu, Leo-kun!?”

Lisellia yang bingung, memanggilnya...

“Aku akan membuatmu menyesali kata-katamu sendiri—oi kalian!”

Ketika Muselle memberi sinyal, empat gadis mencabut senjata mereka masing-masing.

Dua memegang pedang, dan satu memegang gada dan tombak.

Semuanya mungkin pengguna〈 Pedang Suci〉.

Mereka melakukan itu tanpa ekspresi, benar-benar seperti boneka.

“Dasar pengecut, untuk menggunakan empat orang!”

Lisellia memprotes.

“Inilah kemampuan pedang suciku——〈 Dominus〉. Mereka merupakan bagian dari senjataku, kamu tahu?”

Anak laki-laki itu mengeluarkan batang pendek seperti tongkat konduktor dan memamerkannya.

Jadi itu Pedang Sucinya?

“Tidak mungkin, hal seperti itu....!”

Lisellia menatap D'glacé, tapi orang yang ditatapnya hanya mengangkat bahu dan menggelengkan kepalanya.

……Instruktur ini benar-benar ingin menghibur diri ya.

“Yah, ini tentu masuk akal—” (Leonis)

Korps undead yang dipanggil oleh Leonis merupakan kekuatannya sendiri. Jika kita ambil kesimpulan, dia yang memiliki kemampuan mengendalikan dengan Pedang Suci akan baik-baik saja kalau itu merupakan kekuatan dia sendiri.

“Leo-kun....”

“Haruskah aku mengalahkan keempat dan senpai ini?”

“Ah, benar—” Jawab D’glacé.

“Tunggu. Kalau begitu, aku juga akan ikut bertarung bersamamu.”

Mengatakan demikian, Lisellia,

“Aku familar Leo-kun──pelindungnya.”

“Sellia-san—”

“Fuhahahaha, bagus!”

Ekspresi Muselle berubah.
Orang ini mungkin sudah memprediksi tindakan Lisellia.
Itu terlihat jelas di wajahnya.

“Tapi ada syaratnya lho.”

“Apa?”

“Kalau kalian kalah, Lisellia Christallia, harus masuk ke peletonku.”

“....Huh, apa kamu bilang?”

“Ini kesepakatannya, aku ingin kalian telan syarat ini.”

“......!”

Lisellia menggertakkan gigi lantaran marah dan kesal.

Bergabung dalam peletonnya itu artinya ia mungkin akan diperlakukan sama seperti gadis-gadis itu.

Jelas, orang ini punya nafsu menyimpang padanya.

.....Lisellia tentu tahu apa konsekuensinya.

Ia seharusnya berpikir dua kali sebelum memutuskan.

“Aku mengerti.”

Yang menjawab adalah Leonis.

“...eh?”

“Dan juga, kalau Muselle-senpai yang kalah——”

Sambil menunjuk dengan jari.

“Tolong jangan letakkan tanganmu pada Sellia lagi.”

Dengan maksud provokasi, dia memanggilnya Sellia, bukan Sellia-san.

“.......Y-ya, baiklah. Atas nama Pedang Suci aku bersumpah.”

“Leo-kun—”

Gumaman Lisellia bercampur gelisah.

“Bagaimanapun, aku tidak akan membiarkan orang menaruh tangan pada familiarku.” Tegas Leonis.

Mengangguk, gadis itu juga menguatkan tekadnya.

Ada gangguan yang tak terduga tapi—

Ini kesempatan bagus untuk menguji kekuatan Lisellia, yang telah menjadi familiar undead.

Aku yang berpura-pura sebagai support, harus mengelabui instruktur.

“Instruktur, bisakah aku pinjam perangkat pedang pelatihan.”

“Oh, kamu boleh gunakan dengan bebas.”

D'glacé melempar senjata berbentuk batang, dan Lisellia menangkapnya.

Bilahnya memancarkan cahaya ketika Lisellia menerimanya.

“Apa itu?”

Artificial Relic (Pedang Suci tingkat ke-3). Ini hanya replika pedang suci untuk pelatihan. Dan tidak bisa digunakan untuk melawan Void.”

Begitu ya, apa itu senjata yang menggunakan sihir?

“Apa kamu punya pengetahuan tentang pedang?”

Itu mengejutkan, karena saat di reruntuhan, ia hanya menggunakan senjata menembak.

“—Demi membangunkan pedang suci, aku sudah banyak berlatih.” tegasnya sembari mengayunkan pedang di tangannya beberapa kali.

Begitu, itu memang tampak seperti gaya berpedangnya.

“Pedang suci merupakan bentuk jiwa. Kalau aku bisa mewujudkan Pedang Suci, aku pikir itu pasti akan mengambil bentuk pedang.”

Mempersiapkan pedang tiruan di kedua tangan, dia maju ke depan.

“Aku sebagai penyerang dan Leo-kun sebagai support, tidak apa-apa, kan?”

“Ya.” Jawab Leonis.

Tiba-tiba, melihat sekeliling, ada banyak kerumunan siswa yang penasaran tentang apa yang terjadi, berkumpul.

Tes duel dengan sesama pengguna Pedang Suci mungkin merupakan suatu pertunjukkan keren.

“Seperti yang pernah dijelaskan dalam aturan latihan tanding normal, kekalahan akan diputuskan pada siapa di antara kalian yang pingsan dan menyerah kalah. Apabila pertarungan mengarah ke suatu yang berbahaya, pertandingan akan dihentikan dengan otoritasku.”

“Kalau bisa, aku harap kalian segera menyerah ya.” Ucap Muselle, melayangkan senyum menjijikkan dari wajahnya.

“—Dengan ini, duel antar Pedang Suci mulai!”

Dengan suara D’glacé, tes duel pun dimulai.

        ◆

Bersamaan dengan sinyal dimulainya pertandingan,

“—HAAAAAAAAA!”

Dengan kilatan semangat bertarungnya yang menyala, Lisellia menghentakkan tanah dan melangkah maju.

Tanpa penundaan, ia mendaratkan serangan menyendok pada gadis yang paling dekat dengannya.

(Hou....)

Leonis mengangkat alisnya lantaran takjub.

Terlepas dari kenyataan bahwa vampir telah meningkatkan kemampuan fisiknya, penguasaan pedangnya, untuk saat ini sudah pada suatu tingkat yang memuaskan.

Gerakannya kini menunjukkan betapa kerasnya ia telah berlatih.

Seorang gadis yang memegang pedang suci berbentuk tombak dibuat terhuyung setelah pukulan mengenai tubuhnya.

Lisellia melangkah lebih jauh dan melepaskan tusukan tajam.

Ujung pedang tiruan menghantam dada gadis itu.

Di detik yang sama, mana yang Lisellia masukan, meledak dan menerbangkan tubuh gadis itu.

OOOOOOOOO!

Terdengar gemuruh yang berlangsung dari para penonton.

“......Apa!”

Muselle mengerang keheranan.

Hanya karena ia tidak bisa menggunakan pedang suci, Muselle terlalu meremehkan kemampuannya.

“——Terima ini!”

Segera, dia menargetkan Muselle.

Kemampuan pedang sucinya ialah mengendalikan. Menjadikannya sebagai prioritas yang harus dikalahkan adalah keputusan yang tepat.

“Kuh, dasar rendahan!”

Pada tebasan yang diluncurkan dari atas, Muselle menahannya dengan tongkatnya.

—Begitu ya.

Kesombongannya memang bukan hanya sekadar bualan, gerakannya agak lincah.

Meski pedang replika itu bisa dimasukkan kekuatan sihir sampai batasnya, tampaknya itu masih jauh lebih lemah dari aslinya yang mewujudkan jiwa penggunanya.

Pedang Lisselia dengan mudahnya ia tahan.

“Pedangmu benar-benar tidak memiliki keindahan!”

“Aku tak peduli!”

Menanggapi perkataan Muselle, ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, lagi dan lagi.

“...Apa yang kau lakukan, cepat lindungi aku!”

Tongkat pendek Muselle bersinar dan mengendalikan salah satu gadis.

Seorang gadis yang memegang pedang panjang, dengan rela memotong masuk di depan Lisellia.

Wajahnya tanpa ekspresi, dan tidak ada kemauan.

“.....Kuh, kamu patuh dengan orang macam ini—!!?”

“Itu tidak ada gunanya. Orang-orang ini sudah membuat kontrak dengan Pedang Suciku.”

Muselle tersenyum menjijikkan.

.....Sepertinya mereka tidak dipaksa untuk mematuhinya.

Mereka memilih menjadi senjata orang itu atas kehendak mereka sendiri. Kalau tak, Akademi Pedang Suci pasti takkan membiarkannya.

Dalam pertempuran, Muselle akan menjadi pemandu dan menyatukan kehendak empat gadis itu.

Itu juga salah satu taktik.

Aku tidak tahu bagaimana dia memikat mereka .... atau apa mungkin mereka jatuh cinta pada orang ini?

Ketika Leonis sedang mengamati dengan tenang, dia merasakan tatapan tajam dari belakangnya.

Instruktur D'glacé.

Dia mengawasi Leonis dengan terminal model tablet di tangannya.

......Ups, aku hampir lupa, saat ini aku sedang menjalani tes pemeriksaan pedang suciku.

Dia lupa lantaran terlalu disibukkan dengan kekuatan familiarnya.

Baiklah, apa yang harus aku lakukan....?

Menghabisinya menjadi debu terlalu mudah, tapi itu akan mengungkapkan kekuatanku.

......Bagaimanapun, membunuhnya juga merupakan tindakan ceroboh.

Tapi aku akan tetap sedikit menarik perhatian..

Leonis mulai merapal mantra di mulutnya, sambil menyiapkan staf sihirnya.

Menyadari hal itu, Muselle yang sedang mengambil jeda dengan Lisellia mengaktifkan perintahnya.

“Oi, urus bocah itu!”

Seorang gadis tombak, yang dikalahkan oleh Lisellia sebelumnya, bangkit dan bergegas.

“....Leo-kun!”

Sejenak, perhatian Lisellia terganggu.

“Aku baik-baik saja! Sellia-san, kalahkan orang itu!”

Leonis melompat mundur sambil mengucapkan mantra.

Saat ini, kemampuan fisik Leonis sebanding dengan anak laki-laki biasa usia 10 tahunan.

Memang, ada potensi dari tubuh mantan pahlawan, tetapi karena jiwa Raja Iblis yang ada di dalamnya menolak, ia benar-benar tidak bisa memobilisasi tubuh itu sepenuhnya.

Entah dia meremehkan Leonis atau tidak, gadis tombak itu sedikit membuat jeda waktu dalam satu napas sebelum bergegas mendekatinya.

“Keluarlah, Kerajaan Bayangan Kematian〈Mesta Mold〉!”

“Kyaaa!”

Lengan bayangan menjerat kaki gadis yang menyerangnya dan jatuh.

D’glacé yang melihatnya, tercengang dan juga heran.

Di waktu yang bersamaan, diam-diam Leonis juga merapal mantra ganda (Double Casting) untuk membantu Lisellia dengan sihir penguatannya.

Sihir tingkat ke-1──〈Soldi〉, 〈Shellfish〉, dan 〈Mezzolas〉.

(Ket mantra: Agility, Spirit Protection, dan Sense Enhancement)

Yup, bantuan setingkat ini mungkin sudah cukup.

Tentu saja, kekuatan sihir yang diberikan telah diatur agar tetap minimal.

Brakkus mungkin akan mentertawaiku kalau aku terlalu protektif pada familiarku—

Lisellia yang yang telah diberi sihir penguatan sekarang bergerak lebih gesit.

Ia mengalahkan gadis pemegang gada yang berdiri menghalanginya dan merobohkan gadis pemegang pedang yang sudah mengambil pedangnya yang jatuh.

Ia bertarung melawan pengguna Pendekar Pedang Suci dengan kecepatan manusia super.

Meski belum sepenuhnya menguasai kekuatan vampir, dia sudah cukup bertambah kuat.

Hanya gadis pemegang pedang pendek yang melindungi Muselle.

“Jadi kamu hanya lari dengan tameng gadismu ini, Muselle Rhodes!”

Penonton di sekitarnya juga ikut memanas setelah mendengar provokasi Lisellia.

Anak laki-laki itu tampaknya tidak peduli.

“Benar!”

“Jangan lari, Muselle!”

“Lakukan!”

“Nyonya Sellia─────!!”

......Oh?

Terdengar suara tak asing yang berasal dari suatu tempat.

Leonis mengarahkan matanya ke arah suara itu.

Matanya bertemu dengan sosok Regina yang berada di balkon lantai dua fasilitas akademi.

Twintail si rambut pirang itu melenggang, tetapi Lisellia tidak memperhatikan.

“──Cih!”

Muselle mendecakkan lidahnya sambil mulai mempersiapkan Pedang Suci berbentuk tongkat pendek.

Awalnya, ia bermaksud untuk melecehkan Lisellia secara sepihak tanpa Pedang Suci, dan menunjukkannya di depan Leonis untuk membuatnya kesal.

Namun, pada akhirnya skema yang ia jalankan jauh dari harapan.

Yah, kamu mana tahu kalau dia sudah menjadi ratu vampir.

“Jangan remehkan aku! — 〈 Dominus〉!”

Pedang Suci Muselle bersinar terang.

Apa lagi itu?

Pada saat itu, merasa waspada, Lisellia yang mengejarnya satu langkah lebih jauh, tiba-tiba berhenti.

“......!”

Sebagai tanggapan dari cahaya tongkat pendek Muselle—

Masing-masing pedang Suci para gadis juga bersinar.

“──Activation!”
“──Activation!”
“──Activation!”
“──Activation!”

“Dengan paksa membuat mereka melepaskan kekuatan Pedang Suci!?”

“Sampai di sini main-mainnya!” Pekik Muselle dengan senyum sadis.

“““Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”””

Gadis pedang pendek, gadis gada, dan gadis pedang panjang secara bersamaan menyerang Lisellia.

Tak seperti wajah tanpa ekspresi sebelumnya— mereka benar-benar terlihat seperti orang gila.

“—Rock Break!!”

Gadis di depannya mengayunkan ke bawah pedang suci gadanya yang bersinar.

Badoom!

Lantai batu tempat latihan meledak, meninggalkan lubang menganga.

—Cukup kuat.

Leonis yang menyaksikannya dibuat kagum.

Kekuatan destruktifnya sebanding dengan sihir tingkat ke-2 ── 〈 Bragg〉.

(Ket: Vehement Rock Crusher)

Tak diragukan lagi, itu akan secara instan membunuh manusia biasa jika terkena langsung.

Tidak ada tanda-tanda respon dari D’glacé saat Leonis mengalihkan pandangan ke arahnya.

Jadi pertarungan selevel ini sudah biasa di akademi ini?

“OOOOOOOOOOOOO, 〈Lightning Charge〉!”

Gadis tombak yang ditangkap Leonis dengan 〈Mesta Mold〉 juga melepaskan kekuatan Pedang Sucinya.

Namun, sambaran petir setingkat itu takkan cukup mengalahkan sihir Leonis.

Ketika Leonis menjentikkan jarinya, bayangan itu semakin memperketat gadis itu.

“......Uwa, apa itu!”

“Terlalu kuat bahkan untuk seorang bocah.”

“Pedang Suci macam apa itu!?”

Entah bagaimana, ini sedikit menarik perhatian para penonton, tapi aku tidak peduli.

Leonis melihat kembali ke pertarungan Lisellia.

Dia bertarung mati-matian melawan tiga yang melepaskan kekuatan Pedang Suci sekaligus.

“〈Aerial Smash〉!”

Pukulan dari seorang gadis pedang pendek mengenai langsung ke dada Lisellia.

Tubuh mungilnya yang terlempar, langsung berguling dan terpental beberapa kali begitu ia terbanting ke permukaan tanah.

“Uh, uh ... kuh ...!”

“Haha, ekspresinya sungguh enak dipandang. Aku merasa semakin ingin menjadikannya mainanku.”

Keinginan sadistik Muselle tampak semakin bergairah saat melihat Lisellia mengerang kesakitan.

“Selanjutnya bagaimana dengan bocah kurang ajar ituuu—guh!?”

Sesaat. Muselle mengguncang tubuhnya.

....Oops. Barusan, aura membunuhku hampir menyebar.

“......Meir. Kenapa kau diam saja? Cepat habisi bocah itu!”

Muselle mengarahkan Pedang Suci berbentuk tongkat pendek ke seorang gadis yang terikat bayangan.

“Itu tidak ada gunanya lho.” Kata Leonis, mengangkat bahunya.

Meski gadis gada itu berjuang keras pun, ia tak bisa melepaskan diri.

“....Kuh, apa itu Pedang Suci yang menggunakan bayangan?”

Muselle melihatnya seolah-olah sedang melihat sesuatu yang menyeramkan.

── lalu.

“......Ku.....eh....!”

Menancapkan pedang tiruannya ke tanah, Lisellia berdiri tegak.

“Tidak mungkin.....!?”

Wajah Muselle berubah dalam kekagetan.

Tak pernah terbayangkan bahwa dia bisa bangun bahkan setelah menerima pukulan langsung dari Pedang Suci.

Terlebih lagi—

“....Ini tidak sakit sama sekali!”

Mana yang kuat menyembur keluar, rambut peraknya memancarkan cahaya terang.

Pupil biru esnya, berubah merah darah.

Lisellia Christalia adalah Ratu Vampir── undead terkuat.

Meskipun belum sepenuhnya bangkit, kekuatan sihirnya, jauh melampaui manusia lain.

“Kauuuuuuuuuuuuuu!”

Lisellia yang diwarnai kekuatan sihir, menendang tanah.

Segera, tiga gadis pengguna Pedang Suci melindungi Muselle.

Kilatan pedang melesat.
Yang dalam sekejap merobohkan gadis pengguna gada itu.

“──〈Water Jail〉!”

Seorang gadis pemegang pedang panjang melepaskan kekuatan Pedang Suci, menilai bahwa mereka kalah dalam perbandingan kekuatan.

Sebuah penjara air yang lahir dari kehampaan menelan Lisellia.

“......Hal seperti ini.... gah.... bu...!”

“Hahahahaha, bagaimana? Kekuatan Pedang Suci 〈Water〉 dari Millis!”

Muselle terkekeh. Namun momen selanjutnya. Ekspresinya berubah membeku.

“‘Tak terkalahkan’— begitukan maksudmu!?”

Kekuatan sihirnya melonjak dan menyebar seperti sayap, menghancurkan penjara air.

“......huh, tidak mungkin──!”

Tanpa membuang-buang waktu, ia melangkah dan menyerbu,  menerbangkan gadis pengguna pedang pendek.

Tiada lagi boneka yang melindungi Muselle.

Segera, ia bergegas ke Muselle—

“.....!?”

Tepat sebelum ia mengayunkan pedang tiruannya, gerakan itu berhenti.

“Eh, ke …… napa ……!?”

Lisellia bergumam dalam suara gemetar.

Klang, ── pedang tiruan yang digenggaman di tangannya membuat suara kering dan jatuh ke tanah.

Ujung Pedang Suci Muselle menempel di dahinya.

“Ku, kuku .... Kekuatan itu, bagaimana cara mengeluarkannya, aku tidak tahu tapi──” katanya, Muselle mengejek tanpa kenal takut.

“Lagipula, kamu tidak bisa menang dari kekuatan Pedang Suci sejati.... Itulah kenyataannya!”

“... U, ku ...!”

Lisellia tetap tak bisa bergerak, mengeras laksana patung.

Apa yang tadi orang itu lakukan?

Seolah menjawab pertanyaannya, Muselle mengungkapkan kebenarannya.
“Inilah kekuatan kendali absolutku ── 〈Force Dominus〉”

(TLN: Nah ini yang bikin Lisellia nggak bisa bergerak.)

Muselle mengambil pedang tiruan yang jatuh di tanah dan memukul kepala Lisellia.

“… .. a…… kuh……!”

Tak bisa bahkan menahan diri, ia roboh ke tanah.

“Kamu benar-benar keras kepala ya, Lisellia. Kamu tak pernah mematuhi perintahku!”

Dia memukulinya seolah mainan, gadis itu juga tidak mengambil tindakan defensif, hanya diam apa adanya.

“Apaan-apaan kau ini bocah! Kau hanya berdiam terus menonton dari sana?”

“Hei, sudah hentikan!”

“Semenyenangkan itukah kau menyiksa siswa yang lemah?”

“Dia sudah tidak bisa bergerak!”

Para siswa di sekitarnya mengkritik tindakan tersebut.

Namun, tampaknya instruktur D’glacé tidak mencoba menghentikan tindakannya.

Cuma sampai disini ya──

Leonis bergumam dalam benaknya.

Terutama sebagai familiarnya, ia tak bisa mengabaikannya lagi.

Ini sudah cukup. Meski masih belum matang, ada prospek yang baik untuk masa depan──

Memposisikan staf sihir, ia mulai merapal mantra.

Untuk orang seperti itu pun, aku harus menyesuaikannya agar tidak membuatnya terhapus....

Meski begitu, ini adalah hadiah karena menyiksa familiarku, satu dan dua pukulan akan kupersiapkan padamu.

Leonis mulai mengaktifkan sihirnya, sampai pada saatnya ia menyadari sesuatu—
Bahwa semangat di matanya masih belum padam.

“.......Takkan, kubiarkan....”

“Ah?”

“Tak peduli apa aku punya Pedang Suci atau tidak, aku takkan pernah kalah!”

“Apa?”

Lisellia bangkit dengan tenang.

“Mustahil ... Seharusnya tak pernah ada orang yang bisa mematahkan 〈Force Dominus〉-ku!”

Muselle membuka matanya secara mengejutkan, terkulai ke belakang seolah-olah merasakan tekanan.

“.....Huh, perlawananmu sia-sia!”

Sekali lagi, ia melepaskan kekuatan〈 Force Dominus〉.

Dan sesaat kemudian.

Mata semua orang yang hadir terkonsentrasi pada Lisellia. Seolah-olah waktu telah berhenti.

“....eh?”

Tapi yang paling terkejut dari semuanya ialah ia sendiri.

Di depannya, ada sesuatu yang berdiri—

Pedang yang mengkilap, berkilauan dalam sinar ilahi, telah muncul.
Bilah pedang yang tipis sangat mempesona, dan pola di gagangnya didekorasi dengan sangat indah.

“Ti....dak... Mungkin, jangan-jangan ini—”

Risellia membuka matanya lebar-lebar, dan meraih gagangnya.

Pedang suci itu entah bagaimana sangat cocok di tangannya seolah-olah itu sudah ia gunakan bertahun-tahun.

“.....Tidak mungkin, apa itu Pedang Suci!?”

Muselle kebingungan.

Seperti yang terlihat, itu adalah Pedang Suci, yang terwujud dari jiwanya.

OOOOOOOOOOH!

Para siswa di sekitarnya bersorak.

“Hoo, banyak orang yang membangunkan Pedang Suci dalam pertempuran, adapun untuknya itu benar-benar dramatis. Anak perempuan yang bernama Christallia itu.—”

Terdengar gumaman dari D’glacé.

“Apa ini ada hubungannya dengan pertemuannya dengan bocah itu?”

Dia terus menatap Leonis dengan berbagai pertanyaan muncul di sudut pikirannya.

Leonis memalingkan mukanya dan melihat ke arah Lisellia.

Matanya bertemu dengan Lisellia.

Dia mengangguk dan mengibaskan Pedang Sucinya.

“Ini lah Pedang Suciku!”

“.......! .. Iya terus apa! Itu tak lebih dari baru saja terbangun, dibandingkan denganku—”

Seketika.

Hyuh, terdengar suara merobek udara, dan dalam sekejap, sosok gadis itu menghilang.

“── ah?”

Momen berikutnya.

Lisellia sudah ada di belakangnya.
Pedang Suci Muselle patah menjadi dua, lalu menjadi partikel cahaya dan menghilang.

“Aaa.... Ahh... pedangku.. Pedang suciku, gaaaaaa...!”

Itu adalah saat di mana hatinya hancur.

“.....Sekarang kamu mau apa?” kata Lisellia, mendorong bilah pedangnya ke tenggorokannya.

“Ak-aku, menyerah, menyerah...!”

Muselle mengangkat kedua tangannya.
Sorakan nyaring menggema di sekitar gadis itu.

“Nyonya Sellia!”

Regina yang baru saja turun dari balkon langsung memeluknya.

“──Selamat, Lisellia Christalia.”

Instruktur D’glacé berkata dengan senyum lembut.

“Semua usaha kerasmu hingga kini telah membuahkan hasil.”